Sejarah PMH Al Kautsar

190

Sejarah Singkat PMH Al Kautsar

  1. Pondok Pesantern Mathali’ul Huda

Kajen – Margoyoso – Pati merupakan sebuah desa kecil yang penuh dengan keragaman pendidikan.  Berdirinya kurang lebih 50 pondok putra- putri dan beberapa lembaga pendidikan formal salaf dan modern semakin menunjukan keberagaman di desa yang dijuluki desa santri tersebut. Namun walau bagaimana-pun kesalafan Kajen masih mendominasi dan embel- embel ‘kota santri’ terus melekat pada desa tempat perjuangan KH. Ah. Mutamakkin itu (abad 17 masehi)..

Sejarah bermula saat pesantren Kajen Tengah dirilis pada sekitar akhir abad 18 masehi oleh KH. Ismail. Setelah KH. Ismail wafat di Makkah saat menunaikan haji (1899) kepemimpinanya diteruskan oleh murid beliau, Kiai Murtaji dan Kiai Nadi. Namun pergolakan penjajahan oleh Jepang dan Belanda mengakibatkan pesantren sempat mengalami kevakuman karena gedungnya hancur dan kiyai-kiyai selalu dibatasi dan diawasi geraknya.

Pada awal abad 19 dimulailah perintisan kedua oleh KH. Nawawi dengan mendirikan pesantren Kulon Banon. Lalu disusul oleh pesantren-pesantren lain seperti Maslakul Huda oleh KH. Mahfudz Salam pada 1910 dan Mathali’ul Huda Polgarut Selatan oleh KH. Abdus Salam pada 1912. Setelah itu munculah puluhan pondok pesantren hingga kini berjumlah kurang lebih 50 pesantren putra- putri.

Pesantren Mathali’ul Huda Polgarut Selatan (PMH Pusat) merupakan salah satu pesantren yang bernaung di bawah yayasan Nurus salam Kajen yang menganut faham Ahlus Sunah Wal Jama’ah dan merupakan pesantren berbasis  salaf. Didirikan oleh seorang kiai kharismatik kabupaten Pati bernama KH. Abdus Salam. Setelah KH. Abdus Salam wafat, PMH Pusat diasuh oleh putranya KH. Abdullah Salam.

Kini, setelah wafatnya KH. Abdullah Salam (2001), Pesantren PMH Pusat dibimbing dan diasuh oleh putra beliau KH. Ah. Nafi’ Abdillah. PMH Pusat inilah cikal bakal berdirinya PMH AlKautsar.

Berdirinya PMH Al Kautsar Putra – Putri

Pondok Pesantren PMH Pusat semakin berkembang dengan santri yang beragam. Ada yang sekedar mondok, ada yang sekolah di madrasah-madrasah di Kajen dan adapula yang sekedar “numpang” ngaji kilatan. Khusus untuk pesantren tahfidzul Qur’an  masih jarang terdapat di Kajen, padahal salah satu ciri khas Kajen adalah ngaji Al- Qur’an-nya. Untuk itulah tepat pada 1999, adik KH. Ah. Nafi’ Abdillah. H. Ah. Zacky Fuad membuka pesantren putra baru pemekaran dari PMH Pusat yang kala itu hanya berupa sebuah kamar dan dihuni oleh beberapa santri saja . PMH Al Kautsar akhirnya diresmikan pada tahun 2001.

PMH Al Kautsar putra menerima santri tahaffudz juga santri sekolah. Walaupun begitu roda kegiatan yang kontras perbedaannya masih bisa berjalan bersama karena pesantren ini menggunakan sistem kepengurusan yang dijalankan oleh pengurus yang diberi kewenangan oleh bapak pengasuh. Sehingga semua kegiatan bisa terorganisir dengan baik dan optimal.

Nama  Al Kautsar merupakan pemberian dari Al Mukarrom sebagai identitas pesantren dimaksudkan sebagai suatu harapan dan ‘azam dari beliau bapak pengasuh pada para santrinya agar dapat meraih suatu kesuksesan yang sempurna (sa’adud daroin). Ibarat seseorang yang mendapat anugrah mendapati sebuah telaga yang maha jernih yang apabila meminum airnya dapat menghilangkan dahaga selama-lamanya. Itulah telaga Al Kautsar. Semoga nama ini menjadi sebuah do’a mustajab bagi para santrinya agar menjadi insane yang bertaqwa. Amin.

Pesantren putri berdiri dua tahun lebih tua dari PMH Al Kautsar putra (1997). Pesantren ini merupakan salah satu lembaga operasional pesantren yang berada di bawah naungan yayasan Nurus Salam dan berstatus otonom, seperti pesantren di Kajen kebanyakan. PMH Al Kautsar putri yang juga didirikan oleh KH. Ah. Zacky Fuad Abdillah bersama Ibu Hj. Robi’ah Al Adawiyyah sebagai istri.

Sejak berdirinya, pesantren ini seperti pesantren putra menerima santri tahaffudz ( menghafal al- Qur’an) dan santri sekolah. Tak banyak perbedaan dari pesantren putra dan putri baik dalam bidang kurikulum maupun kegiatan yang diselenggarakan.

Perkembangan pesantren PMH Al Kautsar terbilang sangatlah cepat. Jika dibandingkan pada saat awal yang dihuni oleh 9-an santri, kini PMH Al Kautsar memiliki santri sebanyak 196 santri putra dan 205 santri putri (sensus Buletin Mihrob Cordova PMH Al Kautsar per- Oktober 2010) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedepannya banyak program- program yang sudah direncanakan demi membentuk karakter santri yang berbudi luhur di era globalisasi agar citra kepesantrenan tidak hilang ditelan waktu. Juga beberapa program keahlian yang sudah saatnya dipelajari kaum bersarung seperti multimedia akan diselenggarakan supaya santri tak ‘alergi’ dengan kemajuan teknologi seperti saat ini. Karena walau bagaimanapun kemajuan zaman bukanlah untuk dihindari melainkan untuk dikendalikan agar sesuatu yang bisa dimanfaatkan benar- benar bermanfaat bagi kehidupan umat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here